Apakah anda memulai perjalanan tanpa mengetahui kemana tujuan anda, dan apa yang akan anda lakukan sesampainya disana?

Tentu saja tidak. Pasti anda akan membuat tujuannya terlebih dahulu.

Tapi pada faktanya, ribuan manager personalia setiap hari malaksanakan tugas-tugasnya tanpa tujuan yang jelas, dan hasilnya pun tidak tampak.

Lebih parah lagi adalah bahwa mereka itu menugaskan stafnya untuk mengerjakan hal-hal tanpa tujuan yang jelas, dengan hasil yang tidak jelas pula, dan tanpa tahu apakah mereka berhasil atau tidak.

Jadi kalau ingin hasil yang bagus, dan tepat sasaran, maka harus membuat tujuan yang jelas..!

Setuju..? pastinya harus setuju.

Mengapa..?

Ada beberapa alasan, kenapa kita harus menetapkan tujuan sebelum mengerjakan sesuatu.

Berikut inilah alasannya:

  • Tujuan yang jelas membatasi tugas dan memusatkan perhatian serta kegiatan yang harus dilakukan oleh seseorang.
  • Tanpa tujuan yang jelas, suatu tugas mungkin akan berakhir dengan hasil yang jauh berbeda dari yang diharapkan.
  • Orang tidak bisa dimotivasi untuk melaksanakan tugas apabila mereka tidak tahu pasti apa yang diharapkan dari mereka, mengapa mereka harus melakukannya, dan bagaimana mereka diberi tahu kalau sudah berhasil.

Siapapun Anda, apapun profesi Anda, apalagi sebagai manager, jika berjalan tanpa tujuan maka hasilnya akan ngawur.

Mungkin Anda akan mencapai sesuatu, akan tetapi capaiannya keliru.

Hal pertama yang harus kita lakukan sebelum menjalankan aktivitas, baik aktivitas pribadi, keluarga maupun organisasi yaitu klarifikasi tujuan sebuah agenda.

Bagaimana caranya..?

Caranya sangat sederhana,

“hanya mengajukan sederetan pertanyaan sebelum mulai menjalankan aktifitas”.

Musuh utama dalam menentukan tujuan adalah fleksibilitas.

Ada orang yang mengatakan, fleksibilitas itu penting sebagaimana konsep keibuan, mengayomi, menyayangi, mendengarkan kemauan anak.

Tapi hal ini berbeda ketika digunakan sebagai alasan untuk tidak menjelaskan dan tidak menetapkan tujuan.

Berikut adalah, kalimat-kalimat yang sering kita dengar dari orang yang tidak menetapkan tujuan.

Sebelum Rapat

Pemimpin rapat mengatakan “saya tidak akan menyusun agenda. Rapat ini fleksibel saja dan kita akan membicarakan apa saja yang muncul.”

Sebelum Negosiasi

“kita jangan terlalu berpegang pada rencana kerja. Lebih baik kita fleksibel saja dalam mendengarkan apa yang mereka katakan, dan baru kita tanggapi.”

Sebelum wawancar evaluasi

“saya akan menunggu untuk mengetahui masalah apa yang akan mereka ajukan.”

Sebelum presentasi

“saya akan mulai dengan menanyakan apa yang ingin mereka dengar dari saya”.

Jika Anda menemukan contoh-contoh diatas, maka orang yang mngucapkan komertar seperti diatas, tidak akan dapat meraih apapun yang konkret.

Mereka tidak tahu apa yang mereka inginkan sejak semula.

Dan mereka senang melempar masalah kepada pihak lain dan dengan demikian, tujuan orang lainlah yang mereka capai.

Ini penting:

“siapapun yang mempunyai tujuan akan mengalahkan mereka yang tidak punya tujuan apa pun.”

 

Sekali lagi bagaimana cara menetapkan tujuan…?

Ketepatan tujuan hanyalah menyangkut soal menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan (dan kadang-kadang tidak berkaitan):

Pertanyaan pertama:

  • Mengapa kita melakukan ini…? (dengan kata lain, apa tujuannya?)

Apabila setiap orang yang terlibat dalam suatu pekerjaan mengetahui mengapa mereka melakukan hal itu.

Hasilnya biasanya akan lebih wajar dan produktif.

Maka, cobalah adakan rapat atau pertemuan tanpa tujuan dan setiap orang pastinya tidak akan siap dan kurang berminat.

Dan adakan rapat dengan tujuan yang jelas, maka setiap orang akan siap.

Apa manfaatnya mengerjakan hal ini..?

Dengan memusatkan perhatian pada manfaat yang positif, pencetus gagasan memulai proses mempengaruhi orang tidak hanya untuk melaksaakannya, akan tetapi juga melakukan dengan penuh antusiasme.

Bagaimana kiranya hasilnya nanti..?

Cobalah Anda menggambarkan hasil akhir dari suatu kegiatan.

Apabila anda mengembangkan suatu produk baru, pikirkan kekosongan dipasar yang bisa diisi oleh produk tersebut.

Berapa biayanya, dan seperti apa kemasannya.

Cobalah anda menggambarkan tugas yang masih abstrak atau umum menjadi sesuatu yang nyata.

 

Bagaimana kita tahu, bahwa kita telah berhasil..?

Tetapkan standar keberhasilan sebelum memulai kegiatan. Orang perlu tahu apa yang harus mereka kerjakan agar berhasil sehingga mereka dapat menghargai prestasi kerja mereka sendiri.

Seorang manajer bodoh akan menetapkan kriteria keberhasilan setelah pekerjaan selesai.

Menetapakan kriteria keberhasilan secara jelas pada awal pekerjaan akan membantu setiap orang untuk dapat menilai keseluruhan pekerjaan atau kegiatan yang mereka lakukan.

Hanya ada dua pilihan di hadapan kita: yaitu;

“Menetapkan sasaran atau tanpa sasaran.”

Manajer efektif tidaklah demikian dan tidak pernah akan melalukan sesuatu tanpa mengetahui mengapa hal itu harus dilakukan.

Apabila anda memberikan pekerjaan kepada karyawan anda, terangkan mengapa harus dikerjakan dan apa yang dibutuhkan.

Apabila atasan anda memberi pekerjaan tertentu tanpa pedoman yang jelas, tanyakan kepadanya empat buah pertanyaan sebagaimana telah saya jelaskan diatas.

Ia akan menangkap maksud anda dan mulai menanyakan hal yang sama kepada diri sendiri.

Demikianlah sedikit berbagi mengenai pantingnya menetapkan tujuan dan bagaimana cara menetapkannya.

Sekian dan terimakasi telah membaca artikel saya ini.